Ia selalu
menyukai hujan, baik saat hanya berupa rintik ataupun menjelang badai.
Kilatan petir dan gelegarnya bukan gangguan.
Justru merekalah yang akan membuatnya tersadar akan sihir hujan.
Hujan selalu membuatnya luluh, hujan selalu membuatnya merasa rapuh.
Hujan mengulumnya ke dalam relung rasa.
Kilatan petir dan gelegarnya bukan gangguan.
Justru merekalah yang akan membuatnya tersadar akan sihir hujan.
Hujan selalu membuatnya luluh, hujan selalu membuatnya merasa rapuh.
Hujan mengulumnya ke dalam relung rasa.
Ia hanya begitu menikmati hujan.
Baginya hujan adalah hidupnya.
Hanya kala hujan ia punya waktu untuk menikmati segalanya.
Bau tanah basah, bau rumput yang tiba-tiba terasa manis, musik nyaring yang dimainkan air saat memukul atap, tanah, daun dan payung-payung orang yang berlalu lalang.
Ia tidak seperti orang lain.
Ia tak akan terburu-buru hanya karena tetesan air menghujami bumi.
Ia tak akan berlarimenghindari gerimis, membaui sedapnya, merasakan beningnya, bercinta dengannya.
Dan ia akan lebih menikmati hujan, kala tengah sendiri.
Torehan jejak hujan di jendela, yang terlukis, terhapus, dan terlukis lagi seakan memberi pertunjukan tanpa henti untuknya.
Ah...ia hanya sangat menyukai hujan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar