Danang telah beranjak dewasa. Sudah
saatnya ia mencari gadis yang baik untuk dijadikan istri. Tapi sampai saat
ini, ia belum juga berhasil. Bukan suatu hal yang aneh. Ia memang terlalu
mempertimbangkan bibit-bebet-bobot calon istrinya. Maka, saat musim panas mulai
bertiup, Danang melakukan perjalanan ke Yogya. Di tengah perjalanan, Danang
memutuskan untuk beristirahat di sebuah rumah penginapan yang berada di sekitar
Malioboro. Kebetulan ia bertemu dengan teman sekolahnya dulu. Maka Danang tak
segan untuk menceritakan maksud perjalanannya itu. Seperti gayung bersambut, temannya
menyarankan Danang untuk mencoba melamar anak gadis keluarga Prawiro. Menurut
temannya itu, keluarga itu adalah keluarga yang status sosial ekonominya
sederajat dengan Danang. Lagipula, gadis itu sangat cantik dan terpelajar.
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 06 November 2012
Telepon Terakhir
“Dari Prima ?” Tanya Ibu, seolah sambil
lalu padahal di telinga Nayla, suara Ibu terdengar sangat antusias.
“Iya Bu.”
“Di mana dia
sekarang ?”
”Masih di
Kualalumpur.” Nayla pura-pura mengalihkan pandangan matanya ke televisi. Tapi
nampaknya Ibu belum ingin berhenti membahas masalah ini.
”Kapan
pulang ?”
Kamis, 01 November 2012
Hati Buat Andi
Matahari sudah
cukup tinggi ketika Alea sampai di rumah sakit tempat Andi dirawat. Hampir tiga
hari yang lalu Alea baru saja menjalani operasi pengangkatan sebagian hatinya
untuk dicangkokkan ke hati Andi yang mengalami pengerutan.
Kenapa Alea
nekad memberikan hatinya untuk Andi, laki-laki yang sudah meninggalkannya tanpa
perasaan bertahun yang lalu ? Alea sendiri tidak mengerti kenapa. Yang Alea
tahu, ia hanya ingin memberikan sesuatu yang berarti untuk laki-laki yang
dicintainya itu. Alea tidak perduli pada luka di perasaannya, asalkan Andi bisa
sembuh dan mendapatkan kebahagiaannya. Dan yang Alea tahu, dia tidak pernah
ingin memiliki cinta Andi lagi.
Rabu, 10 Oktober 2012
Fly Me to The Moon
26
Juni
Tiara terus mendentingkan piano besarnya
dari sudut ruangan temaram itu. Sesekali ia melayangkan tatapan sendunya
menembus ruangan, mencari sosok yang telah sanggup memberi arti bagi hidupnya,
menambah warna pada hari-hari kelabunya, mempersembahkahkan kelembutan pada
kekerasan dunia, menghangatkan malam-malam bekunya.
10
Januari
Malam itu Tiara mendentingkan ‘Fly Me to
The Moon’ dalam alunan bosanova yang romantis. Ketika itu ia menyisipkan
dentingan-dentingan genit di antara bait-baitnya, mata indah Tiara terperangkap
pada tatapan seorang pria tengah baya yang duduk di samping pilar besar di
sayap kiri ruangan ini.
100 Hari
Hari ini
tepat 100 hari atau bulan ketiga Bunda pergi meninggalkan kami. Terasa begitu
banyak cinta dan kasih sayang yang hilang bersama perginya Bunda. Kehampaan
masih menyergapku di lorong-lorong sunyi dan gelap, waktu berjalan terasa
begitu lambat. Aku tertatih-tatih melakukan segalanya sendirian tanpa Bunda.
Di rumah
ini, semua masih belum berubah dan tak akan ada yang berubah. Warna tirai rumah masih warna kesukaan
bunda, lembayung muda dengan hiasan bordir mawar putih. Vas bungan berisi bunga sedap
malam dirangkai dengan daun palem, juga masih tetap sama seperti dulu. Pot-pot
tanaman bonsai, lantana, sanseviera, lili paris ,
mawar, bugenvil, tetap tumbuh subur dalam rawatanku.
Langganan:
Postingan (Atom)




